DPRD Bongkar Potensi Rp400 Miliar Hilang dari Kebocoran Air PAM Surya Sembada Kota Surabaya

[H. Mochamad Machmud, S.Sos, M.Si., Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Surabaya]

Surabaya | PressDemocracy.com – Wakil Ketua Komisi B DPRD Surabaya, Muhammad Machmud, menyoroti tingginya tingkat kehilangan air Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya dalam pembahasan Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) 2026.

Machmud menyebut tingkat kehilangan air mencapai sekitar 36 persen setiap tahun. Jika dikonversikan ke nilai rupiah, potensi kehilangan tersebut diperkirakan mencapai sekitar Rp400 miliar per tahun.

“Di dalam pembahasan anggaran perubahan keuangan juga terungkap ada kebocoran air PDAM setiap tahun itu 36 persen. Jadi produksi air PDAM yang mengalir dan terpakai tapi tidak jadi uang itu 36 persen dari produksi,” kata Machmud, Senin (07/09/2026).

Menurutnya, angka kehilangan air tersebut harus menjadi perhatian serius jajaran direksi Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya, khususnya direksi baru.

“Kalau dikonversi 36 persen itu menjadi uang, maka temunya Rp400 miliar. Setiap tahun uang itu hilang, ya enggak tahu ke mana,” ujarnya.

Machmud mengatakan penyebab kehilangan air bisa berasal dari berbagai faktor. Di antaranya pencurian air, kebocoran jaringan pipa, maupun faktor lain yang perlu ditelusuri lebih lanjut.

“Ada beberapa masukan kebocoran air itu bisa dari pencurian, bisa dari pipa bocor, bisa juga dari yang lain-lain,” katanya.

Machmud menilai penurunan tingkat kehilangan air harus menjadi salah satu indikator keberhasilan jajaran direksi baru Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya.

Ia berharap tingkat kehilangan air yang saat ini disebut mencapai 36 persen dapat ditekan hingga sekitar 15 persen.

“Ini yang harus ditelusuri oleh direktur yang baru. Ini tantangan buat direktur yang baru. Ukurannya di situ. Kalau bisa tinggal 15 persen, maka perusahaan itu akan menjadi baik,” tegasnya.

Machmud mengakui kinerja Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya saat ini sudah baik, termasuk dalam memenuhi kewajiban dividen. Namun, menurutnya, perusahaan masih dapat meningkatkan kinerjanya apabila tingkat kehilangan air berhasil ditekan.

“Sekarang PAM Surya Sembada Kota Surabaya sudah baik. Tetapi akan lebih baik lagi kalau misalnya kebocoran bisa ditekan. Dividen sudah dipenuhi, ya sudah dipenuhi. Tetapi itu harus jauh lebih baik,” ujarnya.

Selain kebocoran air, Machmud menyoroti keberadaan pengelolaan air mandiri di sejumlah kawasan perumahan elite di Surabaya.

Menurutnya, terdapat kawasan perumahan yang memiliki instalasi pengolahan air sendiri. Air tersebut kemudian dikelola dan dijual kepada warga yang tinggal di kawasan tersebut.

“Salah satu potensi yang hilang dari Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya itu adanya perumahan-perumahan elite yang menjadikan warga sebagai pelanggannya sendiri,” ungkap Machmud.

Ia menyebut pengelola kawasan memiliki instalasi pengolahan air yang dikelola secara mandiri, kemudian airnya dijual kepada warga dengan tarif tersendiri.

“Mereka punya IPAL, instalasi penjernih air minum. Itu dia punya sendiri, dikelola sendiri, dijual sendiri, tentu dengan tarif yang beda,” katanya.

Machmud menilai pola tersebut berpotensi mengurangi potensi pendapatan Perumda Air Minum Surya Sembada Kota Surabaya. Karena itu, Komisi B DPRD Surabaya berencana memanggil para pengelola air mandiri tersebut.

“Inilah potensi kehilangan pendapatan dari PDAM. Harusnya ini segera diambil. Kami akan undang nanti di Komisi B para pengelola air sendiri yang dijual sendiri ke warganya,” pungkas Machmud.

Don`t copy text!