
Surabaya | PressDemocracy.com – Jawa Timur terus menunjukkan dominasinya sebagai salah satu sentra produksi unggas nasional. Berdasarkan data Jawa Timur Dalam Angka 2025, total populasi unggas di provinsi ini tercatat mencapai lebih dari 580 juta ekor.
Anggota Komisi B DPRD Jatim, Ony Setiawan, menilai kondisi tersebut harus diimbangi dengan langkah strategis pemerintah provinsi. Ia mendorong pembangunan pabrik pakan ayam sebagai upaya jangka panjang untuk memperkuat kemandirian pakan (feed independence) dan menjaga keberlanjutan usaha peternakan rakyat.
Menurut Ony, keberadaan pabrik pakan lokal bukan sekadar bentuk subsidi, melainkan strategi untuk memastikan peternak skala kecil mendapat akses bahan baku dengan harga lebih terjangkau, mengurangi ketergantungan pada produsen besar, serta menekan biaya operasional mereka secara signifikan.
Ia juga mengaitkan usulan tersebut dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah. Pakan yang lebih murah dinilai akan memperkuat produksi ternak rakyat sehingga hasilnya dapat menopang kebutuhan program tersebut.
“Dengan adanya pabrik pakan lokal dan dukungan dana dari skema Danantra yang digadang-gadang akan menyuntik sekitar Rp20 triliun ke sektor peternakan ayam, para peternak kecil bisa semakin berdaya,” ujarnya politisi asal PDI-Perjuangan, pada Selasa (02/12/2025).
Ony menegaskan, dana tersebut harus dikelola tepat sasaran agar benar-benar memberdayakan peternak rakyat, bukan hanya pelaku industri besar.
Ia mengungkapkan, kenaikan harga pakan saat ini telah menjadi tekanan nasional bagi peternak. Harga jagung pipilan di Surabaya pada 2025, misalnya, sempat menembus Rp10.750 per kilogram, sehingga peternak ayam petelur harus menanggung kerugian sekitar Rp5.000 per kilogram lantaran harga jual telur berada di bawah harga pokok produksi.
Dengan populasi unggas yang begitu besar, Ony menilai keberadaan pabrik pakan murah menjadi kebutuhan mendesak.
“Produksi ayam dan telur selama ini menjadi kontributor penting bagi perekonomian daerah. Produksi telur ayam ras di Jatim juga tercatat sangat tinggi berdasarkan data BPS dan dinas peternakan,” jelasnya.